Brigjen Pol. Drs. Heru Pranoto Kepala BNNP Aceh Amankan Sabu Sebanyak 14,3 k

  • Bagikan

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh berhasil mengamankan 14.300 gram narkotika golongan 1 jenis metamphetamina (sabu) di Aceh Timur dan 16.244,40 gram ganja di Banda Aceh.

Jika satu 1 gram saja digunakan oleh 5 orang, berarti kita saat ini sudah bisa menyelamatkan 70.000 lebih masyarakat Aceh terutama generasi muda.

“Ini dihitung dari sabu saja belum lagi dari ganja, “sebut Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Drs. Heru Pranoto, didampingi Kabid Pemberantasan Kombes Pol. Mirwazi, saat merilis pengungkapan tindak pidana narkotika jenis sabu dan ganja di Halaman Loby Kantor BNNP Aceh, Selasa (15/2/2022).

Ia menyebutkan kegiatan BNNP Aceh periode bulan Januari dan Februari 2022 berhasil mengungkapkan jaringan narkotika di wilayah Aceh, kronologisnya untuk jenis sabu personil intelijen BNNP Aceh memperoleh informasi dari masyarakat bahwa akan ada transaksi narkotika dalam jumlah besar di wilayah Aceh Timur.

“Saat dilakukan pengeledahan disalah satu rumah, petugas mengamankan dua orang terduga inisial ZK dan MS. Sementara satu terduga lagi inisial ZN di amankan di daerah Pereulak,” kata Heru.

Heru menyebutkan dari pengakuan tersangka ZK, sabu tersebut didapatkan dari seseorang berinisial M asal Malaysia selaku pemilik yang masuk daftar pencarian orang (DPO).

“Ada dua orang DPO yakni M dan inisial A warga Aceh Timur berperan sebagai pengendali,” ujarnya.

Heru juga mengatakan tersangka ZK orang yang menerima barang dari DPO M dan tersangka juga menerima upah sebesar Rp50 juta untuk menjemput dan menyimpan sabu tersebut.

Untuk kasus penangkapan ganja Heru mengatakan, BNNP Aceh melakukan pengeledahan di tempat usaha inisial AS di Banda Aceh, setelah dilakukan interogasi diketahui bahwa keseluruhan narkotika tersebut diperoleh dari inisial SR.

Selanjutnya petugas berhasil mengamankan saudara SR di rumahnya yang beralamat di Desa Lambada Aceh Besar. Atas perbuatannya tersangka diancam dengan hukuman 20 tahun penjara atau hukuman seumur hidup.

Heru mengatakan cukup prihatin, karena Aceh masih dianggap tempat bersandar atau transit dan peredaran jalur narkotika namun kita tidak pernah berhenti menegakan hukum terhadap pengedar ataupun bandar jaringan narkotika.

“Jadi kita terus melakukan pengawasan dari jalur-jalur tempat biasa terjadinya transaksi narkoba,” tuturnya.

  • Bagikan